jump to navigation

Tiga tumor rongga dada Januari 29, 2010

Posted by Andika Chandra Putra in Kanker paru, Penyakit paru.
Tags: , , , ,
1 comment so far

Dada atau diistilahkan dengan thoraks, berisikan organ-organ sangat penting. Jantung, paru merupakan organ penting bagi kehidupan.

Dirongga thorak ini ada 3 tumor yang sering terjadi yaitu :

  1. Kanker paru. Tentunya banyak yang sudah mengetahui kanker paru adalah penyakit kanker yang yang berasal dari sel epithelial bronkial. Banyak faktor untuk timbulnya kanker ini, tetapi merokok merupakan penyebab utamanya. Dalam terapinya bersifat multimodaliti (operasi, kemoterapi dan radioterapi).
  2. Malignant pleura mesotelioma. Tumor jenis ini berasal dari serosa line pada rongga dada dan perut. Umumnya terjadi pada pria. Disebabkan terutama karena paparan asbes. Kombinasi terapi terbukti memperbaiki lama ketahanan hidup pasien mesotelioma jika dibanding hanya pengobatan secara single modaliti.
  3. Tymoma. Ini merupakan tumor yang berasal dari tymus yang terdapat di mediastinum (ruang antara jantung dan paru). Tumor dapat timbul di segala umur tetapi sering terjadi pada usia 40-60 tahun. Pengobatan tymoma yang paling utama adalah operasi (reseksi total) yang dapat dikombinasikan dengan adjuvant kemoterapi.

Stadium III Kanker Paru Januari 27, 2010

Posted by Andika Chandra Putra in Kanker paru, MEDIS.
Tags: ,
add a comment

Pada tulisan saya sebelumnya, saya sudah menjelaskan bahwa stadium kanker paru terdiri atas Stadium I-IV. Lalu apa khususnya stadium III?sehingga dijelaskan tersendiri. Perlu diketahui bahwa stadium III terdiri atas Stadium IIIA dan Stadium IIIB. Kurang lebih 33% penderita kanker paru ditemukan sudah berada pada stadium III. Seorang pasien diklasifikasikan sebagai :

  • Stadium IIIA, jika jaringan tumor sudah mengenai dinding dada,diagfragma, pleura mediastinal atau  pericardium atau berjarak kurang 2cm dari distal karina atau telaj terjadi atelaktasis satu paru (T3) atau terjadi pembesaran lymp node ipsilateral mediastinal atau subcarina (N2)
  • Stadium IIIB, jika tumor mengenai mediastinum, jantung, pembuluh darah besar, esophagus, karina atau terdapat cairan pleura ganas (T4) atau terdapat pembesaran lymph node kontralateral mediastinal,scalene atau supraklavikula (N3)

Walaupun kedua klasifikasi tersebut sama-sama dikelompokan dalam stadium III. Tetapi secara umum manajemen cukup berbeda.

Pada stadium IIIA, terapi pembedahan masih diperlukan  yang dikombinasikan dengan pemberian kemoterapi dan atau radioterapi.  Pada stadium ini kemoterapi atau radioterapi masih diperlukan karena disamping terapi lokal dengan pembedahan dilakukan, juga perlu terapi sistemik karena diperkirakan sudah terjadi occult metastase (metastasis yang tersembunyi). Tetapi saat ini belum banyak clinical trial yang berhasil memperlihatkan perubahan signifikan dari prognosis pasien. Dari beberapa penelitian terlihat bahwa pemberian kemoterapi sebelum pembedahan (neo-adjuvant) secara logika akan memperbaiki stadium kanker paru dan mempermudah ahli bedah dalam melakukan reseksi tumornya. Tetapi disisi lain pemberian kemoterapi sesudah pembedahan (adjuvant) juga memberikan survival rate yang hampir sama dengan neo-adjuvant. Sehingga masih diperlukan clinical trial dengan jumlah pasien yang cukup banyak untuk dapat menentukan apakah pemberian kemoterapi sebelum atau sesudah yang lebih baik bagi pasien.

Pemeriksaan pre-operasi pada kanker paru? Januari 26, 2010

Posted by Andika Chandra Putra in Kanker paru, PRAKTEK, Tindakan Paru (Pulmonology Interventional).
Tags: ,
add a comment

Banyak kalangan terutama masyarakat awam mengetahui bahwa kanker paru 80% disebabkan oleh kebiasaan merokok dan sangat tergantung dengan jumlah rokok, usia mulai merokok, kadar nikotin dsb. Tetapi kali ini kita tidak membahas tentang hal tersebut. Pada tulisan ini kita sedikit membahas apa yang seharusnya dilakukan oelh dokter dan harus diketahui oleh pasien sebelum diputuskan untuk dilakukan operasi pada kasus kanker paru.

Kanker paru saat ini merupakan penyebab kematian tertinggi diantara keseluruhan kanker. Hal ini disebabkan oleh penemuan dini kanker paru masih sulit dilakukan sehingga biasanya pasien datang saat ini kondisinya pada stadium lanjut. Pembedahan pada kanker paru dilakukan pada stadium awal. Pembedahan kanker bertujuan untuk membuang jaringan yang abnormal (sel kanker) sehingga diharapkan tidak meluas (metastasis). Untuk itu ada beberapa hal yang harus diketahui pasien..tindakan apasaja yang akan dilakukan dokter sebelum diputuskan pembedahan.

  1. Pembuktian jenis histologi. Sebagai diketahui jenis histologi kanker paru dapat dibagi atas Adenocarcinoma, Squamous cell carcinoma, Large cell carcinoma dan Small cell carcinoma. Tetapi untuk memudahkan dalam manajemennya maka dibagi atas 2 group yaitu Non-small cell lung cancer dan Small cell lung cancer. Pembuktian histologi ini penting untuk mengetahui karakteristik kanker paru yang diderita serta prognosisnya setelah operasi. Sebagai contoh jenis squamous cell carcinoma pertumbuhannya lebih lambat begitu juga dengan metastasi dibanding jenis adenocarcinoma. Tetapi secara umum small cell lung cancer jarang dilakukan pembedahan karena pertumbuhannya cepat serta biasanya ditemukan sudah pada stadium lanjut. Beberapa hal yang dilakukan untuk menentukan jenis kanker paru yaitu :Sputum histologi, Bronchoscopy dan dilakukan biopsi dan/ bronchial washing, bronchial brushing.
  2. Stadium kanker paru. Penentuan stadium kanker paru harus sudah dibuktikan oleh dokter sebelum memutuskan dilakukan pembedahan pada kanker paru. Kecuali pada kasus pembedahan untuk diagnosis. Stadium kanker paru terbagi atas Stadium I-IV. Dan pembedahan dilakukan jika pasien ada stadium I-II dan pertimbangan khusus pada stadium IIIA. Beberapa hal yang dilakukan untuk penentuan stadium ini diantaranya: Bronchoscopy,CT-scan dada dan perut, Mediastinoscopy,Thorascopy, Pleural aspiration-biopsy dsb.
  3. Perfomance pra bedah. Maksudnya disini adalah kondisi pasien sebelum pembedahan apakah memenuhi syarat untuk dilakukan operasi, sekaligus untuk mengetahui penyulit paska pembedahan. Biasanya dokter akan memeriksa kondisi organ-organ penting seperti jantung, paru, ginjal, hati dsb, termasuk pemeriksaan darah (hematologi dan biokimia).

Setelah dilakukan ketiga aspek diatas maka baru dapat ditentukan apakah pembedahan pada pasien kanker paru akan dilakukan atau tidak. Pembedahan pada kanker paru, tentunya dengan syarat yang sudah ditentukan, dapat memperpanjang usia penderita.

Demam pada pasien kanker paru Januari 17, 2010

Posted by Andika Chandra Putra in Kanker paru.
Tags: , ,
1 comment so far

Demam atau fever didefinisikan secara operasional  sebagai suatu kondisi peningkatan suhu tubuh ≥ 38°C. Pada banyak penyakit, demam merupakan salah satu gejala yang paling umum terjadi. Begitu juga dengan kanker terutama kanker paru. Tetapi apa yang membedakan demam pada penyakit umumnya disebabkan infeksi dengan demam pada penderita kanker paru?

Pada pasien kanker, disamping demam terutama disebabkan karena proses infeksi maka dapat juga disebabkan oleh proses dari kanker (underlying malignancy), transfusi darah serta pyrogenic medication. Sehingga pertimbagan penyebab terjadi demam pada pasien kanker harus berhati-hati. Salah satu kondisi yang sangat berbahaya pada pasien ini adalah fever neutropenia (demam neutropenia). Neutropenia didefinisikan sebagai penurunan komponen neutrophil dalam darah pasien dimana jumlahnya < 500ml (Absolute neutrphil count). Neutropenia pada kasus kanker merupakan dalam menimbulkan sepsis yang jika tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan kematian.

Untuk itu pada pasien kanker dengan demam, ada beberapa pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui sumber infeksi (infeksi umumnya penyebab demam pada kanker tetapi tetap pertimbangkan penyebab lain) seperti :

1.Chest X-Ray (Rontgen dada)

2. Urinalisis dan culture urine

3. culture sputum

4. culture darah

5. pemeriksaan fisis yang cermat (penting!!)

Disamping itu pasien dengan demam neutropenia kita dapat memberikan terapi antibiotik initial yang diobservasi keefektifannya setelah 48 jam dan jika semakin memburuk perlu evaluasi pemberian antibiotik lini ke-2.

Pengobatan TB semakin mudah…. Desember 6, 2009

Posted by Andika Chandra Putra in Infeksi Paru, Tuberkulosis.
Tags:
add a comment

Penderita TB di Indonesia dari tahun ke tahun belum juga dapat dikurangi. Indonesia tetap mencatat “prestasi” menjadi juara 3 penderita TB terbanyak di dunia. Sedih memang… dan beberapa peneliti mencatat bahwa salah satu penyebabnya adalah pengobatan TB yang lama (minimal 6 bulan) dan harus memakan obat dalam jumlah yang banyak, sehingga menyebabkan banyak pasien tidak melanjutkan pengobatan/berhenti ditengah pengobatan dan dapat menulari ke orang lain. Salah satu usaha untuk mengurangi hal tersebut adalah berupa pemakaian obat kombinasi TB dalam satu pil sehingga jumlah pil yang dimakan tiap hari sedikit berkurang dan lebih memudahkan pasien untuk mengingatnya, walaupun lama pengobatan tetap sama. Walaupun begitu inovasi ini cukup diacungi jempol dan diharapkan penemuan obat TB yang lebih poten dapat segera ditemukan.

Obat TB dapat dibagi atas obat first line seperti Rifampisin, INH, Ethambutol, Pyrazinamid, Streptomycin, PAS dan second line seperti Ofloxacin, Ciprofloxacin dll. Obat yang sering diminum biasanya terdiri atas Rifampisin, INH, Pyrazinamid dan Ethambutol dimana setiap pasien biasanya dapat meminum total 7 atau lebih pil dari gabungan obat-obat tersebut. Sehingga sering dalam keseharian pasien sudah “ngeri” duluan dalam meminum obat dan kadang membingungkan karena banyaknya jenis dan jumlah obat. Untuk itu sekarang pasien TB tidak akan takut lagi minum obat TB karena kombinasi keempat obat tersebut sudah dikemas menjadi satu pil walaupun nanti pil Kombinasi dosis tetap (KDT) tersebut akan diberikan sesuai Berat badan pasien. Sebagai contoh penderita TB baru dengan BB 49 maka diberikan pil KDT 3 butir setiap hari. Lebih mudah bukan?..

Pentingnya Pemeriksaan dahak… November 2, 2009

Posted by Andika Chandra Putra in Infeksi Paru, Penyakit paru.
Tags:
1 comment so far

Dahak atau disebut juga sebagai sputum bagi sebagian orang pasti sangat menjijikan..membayangkannya saja sudah bikin mual. Tetapi bagi dokter sangat bermanfaat sekali dalam mendiagnosis suatu penyakit. Bagi dokter paru, sputum sudah menjadi “makanan sehari-hari” karena sebagian besar penderita penyakit paru akan mengeluhkan tentang sputum ini. Di Indonesia yang merupakan negara no 3 terbanyak penderita TB (Tuberkulosis) didunia, sangat identik sekali kalau ada orang batuk berdahak kehijauan dianggap sebagai penderita TB. Pemikiran sebagian orang tersebut tentu saja tidak salah karena penderita TB biasanya mempunyai keluhan batuk berdahak yang cukup lama. Dalam mendiagnosis penyakit TB paru salah satu komponen terpenting adalah pemeriksaan sputum ini secara mikroskopis. Dalam istilah diagnosis dikenal diagnosis kasus TB paru BTA (+) dan TB paru BTA (-). Didiagnosis TB paru BTA (+) jika dalam pemeriksaan sputum 3x secara SPS (Sewaktu, Pagi, Sewaktu) memberikan hasil minimal 2x hasil positif atau 1x positif tetapi didukung dengan hasil foto rontgen paru yang mendukung gambaran TB paru. Sedangkan didiagnosis sebagai TB paru BTA (-) jika hasil pemeriksaan sputum 3x memberikan hasil negatif tetapi gejala dan hasil foto rontgen paru mendukung sebagai TB paru. Lebih lanjut peran pemeriksaan sputum semakin penting dalam mendiagnosis TB paru karena dapat digunakan sebagai tes resistensi obat anti tuberkulosis. Tes resistensi bermanfaat untuk mengetahui apakah obat TB yang tersedia masih memberikan efek terapi pada si pasien. Pada pemeriksaan ini sputum akan dibiakan selama 6-8 minggu jika mengandung kuman TB maka didalam cawan agar akan tumbuh kuman TB. Tumbuhnya kuman TB tersebut disamping dapat digunakan untuk pemeriksaan resistensi obat sekaligus membuktikan diagnosis TB paru. Walaupun tidak semua laboratorium dalam melakukan pemeriksaan resistensi ini.

batuk.thumbnailSehingga bagi yang curiga menderita TB paru segera periksakan dahak/sputum anda..Ingatkan dokter anda kalau didiagnosis TB paru tetapi tidak dilakukan pemeriksaan ini..

 

Chromosome dan Kanker Paru Oktober 28, 2009

Posted by Andika Chandra Putra in Kanker paru.
Tags: , , ,
add a comment

Penyakit dan biologi molekular saat ini sedang menjadi primadona bagi kebanyakan scientis, reseacher bahkan klinisi. Berhubungan dengan itu saya sedikit mencoba membahas kaitan antara kanker paru dan chromosome (kromosom). Secara definisi kromosom adalah suatu unit pada genome (kumpulan informasi genetik pada suatu organisme), yang pastinya membawa banyak informasi genetik. Sebagai pemahaman, tubuh kita dalam menjalankan fungsinya mempunyai cetak biru/manual yang tersimpan dalam DNA, dimana DNA ini terdapat dalam kromosom. Kromosom manusia terdiri dari 46 buah (22 pasang kromosom autosom dan 1 pasang kromosom sex).chromosomes-and-dna-picture

Kanker  paru sebagai penyakit kanker paling mematikan saat ini, secara patogenesis sangat berhubungan dengan gangguan pada kromosom ini. Seperti diketahui suatu sel normal untuk dapat menjadi sel kanker memerlukan banyak gangguan pada genetik dan epigenetik. Salah satu yang terpenting adalah inaktivasi tumor suppresor genes (gene baik) dan aktivasi oncogene (gene jahat). Sengaja saya memisalkan sebagai gene baik dan jahat untuk memudahkan saja. Dari beberapa studi diketahui gangguan pada kromosom sangat berdampak pada terjadinya kanker paru. Kehilangan  kromosom 3p (yang diperkirakan mempunyai banyak tumor suppresor genes) merupakan kromosom yang berkaitan erat dengan kanker paru, disamping kromosom lain seperti 4q,5q, 8p, 10q, 13q, dan 17p. Disisi lain penambahan kromosom (berarti mengandung oncogene) juga ikut berperan dalam patobiologi kanker paru seperti kromosom 1p, 3q, 5p,8q.

Gangguan kromosom ini saat ini menjadi bahan penelitian yang menarik bagi kebanyakan reseacher untuk mengetahui proses terjadi kanker paru.

sekian.

 

PPOK eksaserbasi akut Oktober 23, 2009

Posted by Andika Chandra Putra in PPOK.
Tags: ,
add a comment

PPOK eksaserbasi akut atau dikenal juga dalam bahasa Inggris sebagai Acute Exacerbations of Chronic Obstructive Pulmonary Disease (AECOPD). Istilah ini didefinisikan sebagai peningkatan keluhan/gejala pada penderita PPOK berupa (saya mengenalkan sebagai 3P yaitu 1. Peningkatan batuk/memburuknya batuk 2. Peningkatan produksi dahak/phlegm 3. Peningkatan sesak napas.

Berdasarkan data di USA diketahui bahwa penyakit ini merupakan penyebab terbanyak pasien rawatan. Pasien PPOK yang dirawat menunjukan ketidakberhasilan perawatan si pasien, baik karena tidak adekuatnya terapi atau bisa dari pasien sendiri karena masih merokok dsb. PPOK eksaserbasi akut dalam menimbulkan kondisi hypoxemia (turun O2 dalam darah) dan Hypercapnia (meningkatnya kadar CO2 dalam darah), perubahan status mental, meningkatnya sesak napas yang merupakan sekaligus sebagai indikasi untuk dirawat.

Dalam penatalaksanaannya, bagi hipoksemia ringan dapat diberikan suplemen oksigen untuk mempertahankan PO2 60 mmHg, tetapi untuk severe hipoksemia dalam dilakukan Non invasive positive-pressure ventilation (NIPPV) atau Invasive ventilatory support. Tetapi lebih dianjurkan non invasive ventilatory support jika masuk dalam kriteria karena lebih kecil efek sampingnya. Secara farmakologi, PPOK dapat diberikan bronkodilator, antibiotik dan steroids. Antibiotik dianjurkan pada pasien dengan perubahan warna sputum, meningkatnya produksi dahak,meningkatnya sesak napas. Adapun antibiotik yang dianjurkan sangat tergantung pada etiologi, pola sensitivity dan resistensi, riwayat penyakit dsb. Sedangkan steroid dianjurkan distop setelah pemberian 14 hari karena tidak memperlihatkan keuntungan, malah banyak efek sampingnya. Bronkodilator merupakan komponen utama dalam terapi PPOK. Biasanya kombinasi short beta agonis dan antikolinergik paling kerap dipakai.

Gejala Kanker Paru Oktober 18, 2009

Posted by Andika Chandra Putra in Kanker paru, Penyakit paru, kesehatan, paru.
add a comment

Seperti telah diketahui bahwa kanker paru merupakan kanker yang paling tinggi yang menyebabkan kematian. Berdasarkan suatu studi diketahui bahwa kanker prostat merupakan kanker terbanyak pada pria, dan kanker payudara tertinggi pada wanita, tetapi kanker paru merupakan penyebab kematian tertinggi baik pada laki-laki dan wanita. Salah satu penyebab tingginya angka kematian pada kanker paru adalah munculnya gejala/symptom sudah pada stage lanjut.

Gejala kanker paru dapat kita bagi 3 yaitu : yang berasal dari tumornya sendiri, metastasis dan Sindroma paraneoplastik sindrome. Tetapi gejala yang tersering adalah batuk (50-70%), sesak napas (dyspnea)(25-60%), chest discomfort (60%), hemoptysis (batuk darah)(25-50%), suara parau, nyeri tulang (20%), neurologic symptoms (sakit kepala, seizure,weakness, sensory loss). Tetapi secara umum diketahui bahwa pasien yang mempunyai gejala dibanding yang tidak ada gejala mempunyai prognosis yang lebih jelek.

Kemoterapi vs. Best supportive care Agustus 29, 2009

Posted by Andika Chandra Putra in Kanker paru.
Tags: , ,
add a comment

Kanker paru saat ini masih merupakan jenis kanker yang paling ditakuti, karena beberapa penelitian menunjukan “5 years survival” untuk kanker ini kurang dari 15%. Serta studi epidemiologi dari beberapa negara menunjukan kanker paru merupakan penyebab kematian terbanyak dibanding jenis kanker lainnya.
Kanker paru terdiri atas Stage IA, IB, IIA, IIB, IIIA, IIIB dan IV. Sekarang kita lebih fokus pada stage IIIB dan IV dimana pengobatannya berupa kemoterapi dan radioterapi.
Pada banyak kasus di RS terutama dinegara berkembang seperti Indonesia terjadi dilema pemberian kemoterapi pada pasien dengan stage ini. Harga kemoterapi yang mahal selalu menjadi bahan pertimbangan bagi pasien termasuk dokter. Terlepas dari “masalah duit” tersebut secara klinis pemberian kemoterapi tersebut bermanfaat bahkan pada stadium akhir. Beberapa penelitian yang sudah di publish yang memperbandingkan kemoterapi dengan supportive care saja. Penelitian ini menunjukan pasien dengan kemoterapi mempunyai median survival lebih panjang dibanding supportive care (20-30 minggu vs.10-17 minggu). Walaupun median survivalnya sangat bervariasi antar penelitian tetapi semua menunjukan pemberian kemoterapi lebih baik.
Tetapi jika kita kembalikan “masalah perduitan” berdasarkan cost effectiveness analysis ternyata pemberian kemoterapi tidak bermakna.

Sebuah dilema bagi dokter paru di Indonesia dalam menterapi pasien kanker paru stage IIIB dan IV, disatu sisi pemberian kemoterapi bermanfaat bagi memperpanjang usia pasien tetapi disisi lain sistem jaminan asuransi di Indonesia yang masih amburadul menjadikan sulit dalam mengambil keputusan.
Jadi gimana dong..sayang orang tua (..dapat memperpanjang usia 2-3 bulan) atau sayang duit???..pilihan ada pada anda…