Sore kemarin saat mata mulai tidak kompromi, saya memaksakan diri untuk seperti biasa hari Selasa dan Kamis mengikuti laporan kasus di Second Internal Medicine Dept (kokyuki naika-respiratory medicine) Hiroshima university hospital. Hari itu saya cukup beruntung bukan hanya kasusnya menarik tetapi juga duduk dekat dua orang sensei (dokter paru) yang cukup fasih berbahasa Inggris. Seperti biasanya kebanyakan kasus yang dilaporkan adalah kasus kanker paru dan interstitial disease (penyakit parenkim), tetapi hari itu ada kasus menarik yang dilaporkan yaitu pasien dengan diagnosis Hypersensitivity pneumonitis kemudian juga ada kasus Diffuse lung disease cause drug induce Thalidomide dan Sarcoidosis. Bagi saya pribadi kasus-kasus tersebut sangat menarik karena belum pernah saya dapati saat di Indonesia. Sebenarnya ketiga penyakit yang saya sebut diatas masih termasuk dalam group penyakit Interstitial disease tetapi masing-masing mempunyai karakteristik sendiri-sendiri. Singkatnya kali ini saya akan membahas sedikit tentang hypersensitivity pneumonitis yang baru saja di baca..
Hypersensitivity pneumonitis atau sering juga disebut dengan extrinsic allergic alveolitis. Dari kata allergic tersebut kita sudah dapat menduga ini pastinya ada hubungan dengan alergi ataupun faktor imun. Memang penyakit ini berhubungan dengan reaksi imun yang terjadi didaerah alveoli (komponen terkecil paru) akibat paparan antigen (benda asing). Antigen yang masuk melalui inhalasi (hirupan) udara bebas dan sangat berhubungan dengan pekerjaan seperti pada petani ataupun berhubungan dengan hobi. Secara garis besar antigen penyebabnya tersebut dapat dibagi atas :
- Fungal=Jamur, banyak ditemukan pada petani sehingga sering juga disebut farmer’s lung
- Animal=Binatang, sering ditemukan pada orang-orang yang hobi memelihara burung.
- Bacterial,banyak ditemukan pada orang pekerja deterjen karena terdapatnya Baccillus subtilis
- Inorganic, sering disebabkan oleh paparan Nitrofurantoin, Toluena
- Uncertain, belum diketahui secara pasti seperti Sauna lung, insectide lung
Walaupun penyakit ini berhubungan dengan reaksi inflamasi (peradangan)-reaksi imun, tetapi hubungan pasti masih belum banyak diketahui. Disamping itu pengaruh genetik juga dianggap berperanan dalam penyakit ini. Hal ini terlihat dari adanya hubungan variasi TNF alpha (sejenis faktor inflamasi) pada seseorang dengan kerentanan untuk timbulnya penyakit ini. Walaupun begitu saat ini sudah menjadi acuan umum bahwa penyakit ini diduga berhubungan dengan kombinasi reaksi hipersensitifitas tipe III dan IV sebagai akibat paparan antigen. Hipersensitifitas tipe III dan IV merupakan dua tipe dari 4 tipe reaksi hipersensitif tubuh. Reaksi hipersensitifitas tipe III merupakan reaksi dimana antigen dan antibodi bergabung/berikatan menjadi suatu komplek imun sehingga disebut juga immune complex. Sedangkan pada tipe IV(cell mediated or delayed hypersensitivity), antibodi tidak banyak berperanan karena disini lebih dominan karena aktivasi makrofag, natural killer cell. Sehingga pada hypersensitivity pneumonitis lebih banyak ditemukan limfosit-T (CD8) dan pada pemeriksaan darah tepi akan ditemukan peningkatan sel darah putih terutama neutrofil.
taken from http://www.pilotforipf.org/imagelibrary/2006_lib/img_20.php
Secara klinis, gejalanya yang ditemukan sangat bervariasi mulai akut sampai kronik. Banyak ditemukan dalam keadaan gagal napas (respiraory failure) karena gangguan keseimbangan ventilasi-perfusi. Hal ini terjadi karena memang kerusakan terjadi pada alveoli-kapiler, tempat difusi dan perfusi (aliran darah) oksigen.
Secara umum menghindar dari paparan antigen atau memakai masker saat bekerja atau saat melaksanakan hobi yang rentan paparan antigen masih merupakan usaha terpenting untuk mencegah timbulnya lagi penyakit ini. Untuk obat pemberian kortikosteroid masih merupakan pilihan pada penyakit yang berhubungan dengan reaksi imun ini.



