Monitoring pengobatan TB paru dengan pemeriksaan dahak

Posted: July 11, 2011 in Dokter paru, Infeksi Paru, Penyakit paru, PRAKTEK, Tuberkulosis
Tags: , , , , , ,

Tuberkulosis paru sebagai penyakit yang umum pada masyarakat Indonesia (prevalensinya masih no 3 di dunia) mengharuskan seluruh dokter khususnya dokter paru untuk paham mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan tuberkulosis. Dalam hal diagnosis tuberkulosis (TB) paru, pemeriksaan dahak (sputum) Basil tahan asam (BTA) masih merupakan pemeriksaan definitif saat ini. Tetapi ada sedikit perubahan yaitu WHO merekomendasikan bahwa jika satu kali pemeriksaan dahak BTA sudah positif maka sudah dapat dinyatakan seseorang didiagnosis sebagai TB paru (WHO Guideline 2006, Fourth edition) yang sebelumnya harus dilakukan minimal 2x untuk dinyatakan sebagai TB paru (pada negara yang mempunyai kualitas lab bagus).

Disamping digunakan untuk diagnosis maka pemeriksaan dahak ini juga bermanfaat untuk monitoring pengobatan TB. Untuk monitoring pengobatan WHO merekomendasikan pemeriksaan pada akhir Intensif fase (bulan ke-2) pada pada pasien kasus baru baik pada inisial pengobatan mempunyai hasil BTA +, atau (-) bahkan yang tidak dilakukan pemeriksaan awal sama sekali serta dilakukan ulangan lagi pada bulan ke-5 dan ke-6 (akhir pengobatan). Khusus pada pasien TB paru yang diawal pengobatan tidak dilakukan pemeriksaan sputum maka jika hasil pemeriksaan pada bulan ke-2 menunjukan hasil negatif maka pengobatan tetap dilanjutkan tetapi tidak dilakukan pengulangan pemeriksaan sputum pada bulan ke-5 atau akhir pengobatan dan monitoringnya dilakukan secara klinis serta dapat menggunakan peningkatan berat badan sebagai salah satu prediktor (Rekomendasi WHO, Guideline 2006).

Pada pasien dengan kasus re-treatment atau sering dimasukan pada kategori II dan mendapatkan pengobatan 2HREZES+1HRZE+5HRE maka pemeriksaan ulangan sputum dilakukan pada bulan ke 3 (akhir fase intensif), bulan ke-5 serta akhir pengobatan pada bulan ke-8. Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah pada pasien yang sudah mempunyai hasil kultur sputum serta sudah mempunyai hasil resistensi obat TB maka jika didapati hasil resisten terhadap INH dan Rifampicin, serta merta langsung dianggap sebagai kasus gagal (treatment failure). Begitu juga jika pada akhir pengobatan bulan ke-5/6 jika hasil pemeriksaan ulangan dahak tetap menunjukan sputum BTA (+) maka pasien ini dikategorikan sebagai kasus gagal pengobatan dan jika belum pernah dilakukan pemeriksaan kultur/resistensi obat TB maka WHO merekomendasikan pemeriksaan ini, tetapi jika pemeriksaan ini karena diwilayah tersebut tidak tersedia atau tidak memungkinkan maka pada pasien baru yang tetap menunjukan terdapatnya kuman TB tersebut maka dapat dilakukan pengobatan empiris berupa pemberian obat TB dengan pola 2HREZS+1HREZ+5HRE.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s