Variasi gene ADBR2 dan respons terapi asma

Posted: July 25, 2011 in Asma, Genetik
Tags: , , , ,

Saat ini obat-obatan pilihan utama untuk asma adalah obat-obatan yang bekerja di Beta2 adrenergic reseptor. Mulai dari salbutamol (albuterol) yang bekerja secara short acting dan salmeterol yang bekerja secara long acting mempunyai “main” effect di Beta-2 adrenergic receptor. Berdasarkan pengalaman klinis banyak dokter mengemukakan terdapatnya perbedaan respon pengobatan saat menggunakan obat-obat diatas pada pasien meskipun mempunyai tingkat “keparahan” yang sama. Walaupun tidak dapat disangkal bahwa berbagai faktor mempengaruhi respon pengobatan obat-obat Beta2 agonist tersebut tetapi faktor genetik diperkirakan mempunyai peranan yang sangat penting.

Untuk itu beberapa peneliti memeriksa gen yang berhubungan dengan beta-2 adrenergic receptor tersebut. Gen ADBR2 merupakan gen yang bertanggungjawab untuk kerja receptor tersebut. Gen ini hanya mempunyai 1 exon dan mengkodekan 413 asam amino. Gen ini berada di kromosom 5 dan memiliki 4 variant yang penting. Variasi genetik atau sering disebut juga polymorphism adalah perbedaan urutan nukleotide pada masing-masing individu yang komposisinya lebih dari 1% dari jumlah populasi. Sedangkan jika jumlah variasi genetik tersebut kurang dari 1% dari populasi maka disebut mutasi. Sehingga polymorphism itu merupakan sesuatu hal yang normal dalam populasi tetapi perbedaannya dapat menimbulkan perbedaan kerja. Sebagai contoh gen ADBR2 ini, pada seorang individu pada codon 16-nya mempunyai asam amino Arginin tetapi pada individu lainnya mempunyai asam amino glycine. Lalu apa perbedaan dari kedua individu tersebut yang memiliki perbedaan ekspresi asam amino yang berbeda tersebut?. setelah diteliti diketahui bahwa pada individu dengan homozygot Arginin maka akan cendrung mengalami penurunan FEV1 (Force expiratory volume)(kemampuan parunya berkurang) meskipun dengan pengobatan salbutamol jika dibandingkan dengan individu dengan homozygot Glycine. Artinya dokter dapat memprediksikan bahwa pada individu dengan ADBR2 yang codon 16 nya adalah homozygot Arginin akan sulit pengobatannya karena respon obat kurang begitu baik.

Begitu juga variasi ADBR2 pada codon 27. Terdapat variasi individu antara individu dengan glutamine dan asam glutamic. Dimana terjadi perbedaan vasodilatasi (pelebaran) saluran napas setelah pemberian obat-obat beta2 agonist. Sehingga berdasarkan perkembangan genetik tersebut maka klinisi dapat memperkirakan efek terapi pada pasien dengan begitu dapat men-design obat-obat yang cocok serta efektif untuk pasiennya. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s