Jika dahak tidak dapat dikeluarkan, bagaimana diagnosis Tuberkulosis?

Posted: July 28, 2011 in DIAGNOSIS, Dokter paru, INFO, Penyakit paru, PRAKTEK
Tags: , , , , ,

Sudah menjadi standar diagnosis tuberkulosis untuk melakukan pemeriksaan sputum BTA pada pasien yang dicurigai menderita TB. Pada penderita TB yang sudah lanjut mendapatkan material dahak cukup mudah dilakukan karena pada kondisi ini pasien mempunyai gejala batuk berdahak sehingga dapat mengeluarkan sampel dahak secara spontan. Sampel dahak untuk diagnosis TB sangat penting bagi dokter serta tentunya pasien untuk menyakinkan bahwa diagnosis mereka adalah tuberkulosis disamping pemeriksaan dahak ini juga sangat direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tapi pada kondisi dimana dahak tidak dapat dikeluarkan secara spontan, bisa dikarenakan pasien hanya batuk kering, atau secara radiologi mencurigai tuberkulosis tetapi dahak tidak ada maka berbagai alternatif untuk mendapatkan material/sampel untuk pemeriksaan TB dapat diusahakan. Dari banyak literature memperlihatkan beberapa alternatif seperti induksi sputum, Bronkoskopi, Bronkoalveolar lavage, gastric washing (bilasan lambung), dapat dimanfaatkan untuk membantu dokter dalam diagnosis TB.

Pada kesempatan ini,kita akan membicarakan tentang induksi sputum. Pemeriksaan induksi sputum merupakan usaha untuk menginduksi (merangsang) keluar dahak dengan menggunakan cairan sehingga didapatkan sampel untuk pemeriksaan BTA(basil tahan asam) ataupun kultur mikobakterium tuberkulosis. Untuk induksi sputum biasanya menggunakan cairan hipertonik/hypertonic saline seperti NaCl 3%-5%. Cairan hipertonik pun bervariasi tetapi umumnya menggunakan 4-6 ml NaCl 3% atau NaCl 5%. Untuk normal saline (NaCl 0.9%) masih dapat digunakan tetapi dari banyak penelitian didapatkan cairan hipertonik lebih efektif untuk merangsang dahak. Induksi sputum ini merupakan pemeriksaan yang tidak invasif, murah dan mempunyai sensitiviti yang cukup tinggi untuk diagnosis TB sehingga lebih dianjurkan dibanding pemeriksaan alternatif lainnya yang menggunakan bronkoskopi atau endoskopi. Lama pemberian cairan hipertonik menggunakan alat nebulizer tersebut bervariasi tetapi rata-rata diberikan selama 15-20 menit. Nebulizer jenis ultrasonik lebih dianjurkan dibanding ventury mask karena lebih efektif serta mengurangi kemungkinan kontaminasi dari alat.

Induksi sputum juga dapat digunakan untuk mendapatkan sampel dahak/sputum pada pasien-pasien yang dicurigai menderita asma, PPOK, kistik fibrosis bahkan pada pasien kanker paru. Sehingga saat ini induksi sputum merupakan modaliti cukup penting untuk diagnosis beberapa penyakit diatas karena murah, tidak invasif dan sensitiviti cukup tinggi. Tetapi walaupun begitu, pada individu yang hipersensitif maka dapat timbul bronkokonstriksi(penyempitan saluran napas) selama atau sesudah pelaksaanaan induksi ini. Maka sebelum dan sesudah induksi sputum dianjurkan untuk dilakukan pemeriksaan spirometri untuk menilai fungsi parunya atau minimal dilakukan pemeriksaan PEF (peak expiratory flow) terutama pada pasien-pasien yang memiliki riwayat asma atau PPOK. Serta ada baiknya sedia payung sebelum hujan dengan kata lain saat pemeriksaan menyediakan obat-obat bronkodilator untuk melapangkan jalan napas jika kondisi bronkokontriksi terjadi.

Contoh Ultrasonic nebulizer:

Contoh Mask nebulizer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s